SEJARAH DESA TEGALARUM

Letak Geografis wilayah Desa Tegalarum berapa diwilayah Utara dari Ibu Kota Kabupaten Pati, Desa Tegalarum merupakan salah satu desa di Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati, dengan jarak tempuh ke ibu kota Kecamatan 5 KM dan ke Ibu Kota Kabupaten 22 KM.

Sejarah Desa Tegalarum, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, memiliki akar cerita yang sangat erat dengan masa penyebaran agama Islam di pesisir utara Jawa dan pengaruh dari tokoh-tokoh besar pada zamannya.

Berikut adalah ringkasan sejarah dan asal-usul Desa Tegalarum:

1. Asal-Usul Nama (Etimologi)

Nama Tegalarum berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa:

Tegal: Berarti ladang, tanah lapang, atau area persawahan.

Arum: Berarti wangi atau harum.

Secara harfiah, Tegalarum berarti "Ladang yang Wangi". Nama ini konon diberikan karena tanah di wilayah ini sangat subur dan memberikan hasil bumi yang memuaskan, serta dikaitkan dengan peristiwa spiritual yang meninggalkan kesan "harum".

2. Tokoh Pendiri (Cikal Bakal)

Masyarakat setempat meyakini bahwa sejarah desa ini tidak lepas dari sosok Mbah Syekh Ahmad Mutamakkin (seorang waliyullah dari Desa Kajen) atau para pengikutnya.

Banyak cerita tutur (folklore) menyebutkan bahwa pembukaan wilayah (babat alas) Tegalarum dilakukan oleh tokoh ulama atau bangsawan yang mengasingkan diri atau menyebarkan agama. dianggap sebagai sosok yang membawa kedamaian dan kemakmuran bagi masyarakat awal di Tegalarum.

3. Hubungan dengan Industri Tepung Tapioka

Sejarah ekonomi desa ini mulai berubah signifikan pada masa kolonial Belanda hingga awal kemerdekaan. Bersama dengan desa-desa lain di Margoyoso, Tegalarum menjadi bagian dari perkembangan industri pengolahan pati kanji (tapioka).

Dahulu, pengolahan dilakukan secara tradisional menggunakan tenaga manusia dan hewan.

Kini, Tegalarum dikenal sebagai salah satu penyokong utama produksi tepung tapioka di tingkat nasional, yang mengubah struktur sosial masyarakatnya menjadi lebih mandiri secara ekonomi.

4. Tradisi Sedekah Bumi

Sejarah Tegalarum juga terekam dalam tradisi tahunan Sedekah Bumi. Acara ini bukan sekadar pesta rakyat, melainkan bentuk penghormatan kepada para leluhur yang telah membuka lahan. Biasanya diisi dengan:

Ziarah makam leluhur (punden desa).

Tayuban atau Ketoprak: Sebagai hiburan tradisional yang sudah dilakukan turun-temurun sejak zaman dulu untuk menjaga kelestarian budaya.

5. Tegalarum Masa Kini

Dalam perkembangannya, Desa Tegalarum telah bertransformasi dari desa agraris murni menjadi desa yang religius dan wirausaha. Letaknya yang berada di jalur utama menuju pusat pendidikan Islam (Kajen) menjadikan desa ini sangat dinamis dalam hal akulturasi budaya santri dan budaya pesisiran.